04
Januari 2012
Kontribusi
Waduk Hanya 15 Persen
SOLO-Masalah
banjir yang terus berulang di Solo tidak akan pernah selesai selama
hunian yang ada di sepanjang bantaran Bengawan Solo tidak direlokasi.
Hal
ini ditegaskan Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) Balai
Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Danang Baskoro menanggapi
banjir yang terjadi di Solo, Minggu (1/1).
Dia membantah banjir yang terjadi di Solo diakibatkan dibukanya
pintu air di Waduk Gajahmungkur Wonogiri. Sebab, Wonogiri pada
saat yang sama tidak mengalami hujan.
Limpahan
air yang ke Solo justru disebabkan curah hujan yang cukup tinggi
di sejumlah daerah hulu yang tidak melewati waduk, di antaranya
Sungai Nepen mencapai 100 mm/hari dan Sungai Dengkeng, Kabupaten
Klaten mencapai 118 mm/hari.
”Waduk Wonogiri hanya berkontribusi antara 15 persen dan
25 persen dari banjir yang ada. Selebihnya disebabkan pengendalian
banjir di Solo sendiri,” jelas dia.
Menurut
dia, banjir akan terus terjadi di daerah bantaran yang termasuk
kawasan parkir air itu.
”Jadi yang berada di kawasan bantaran itu jelas akan terkena
bila debit air bertambah.”
Menurut dia, BBWSBS sudah melakukan antisipasi banjir melalui
program normalisasi Bengawan Solo, yakni dengan meningkatkan areal
tanggul dari yang semula Q10 tahun menjadi Q50 tahun. Q10 tahun
memiliki kapasitas debit air 1.550 m3/detik, Q50 tahun memiliki
kapasitas debit air 2.450 m3/detik.
Terkendala
Hunian
Semestinya
untuk Bengawan Solo yang melintasi wilayah Solo, kata dia, program
yang dimulai, pada 2009 itu sudah selesai 2011. Tapi karena masih
terkendala hunian di bantaran sungai, hingga kini masih terkatung-katung.
”Untuk Solo, dimulai dari Langenharjo hingga Jurug masih
kurang sepanjang 5 km. Sehingga program Q50 tahun itu baru bisa
dilakukan setelah warga bersedia pindah dari bantaran.”
Saat
disinggung siklus banjir empat tahunan, dia menyatakan tidak terkait
hal itu. ”Akibat perubahan iklim, saat ini tidak bisa diprediksi.
Bisa saja terjadi dalam periode yang lebih cepat, mungkin setahun
atau dua tahun sekali. Jadi warga harus terus waspada.”
Selain program Q50 tahun, BBWSBS juga menyiapkan rencana untuk
menanggulangi banjir di sepanjang Bengawan Solo. Yakni melalui
program closure dike, berupa pembangunan tanggul di tengah Waduk
Gajahmungkur. Pembangunan tanggul tersebut diharapkan mampu mengurangi
masuknya sedimentasi dari Sungai Keduang, Wonogiri akibat buruknya
daerah aliran sungai (DAS) di sana.
”Jadi, semacam diberi kamar sendiri di Waduk Gajahmungkur,
sehingga air dari sungai Keduang yang membawa banyak sedimentasi
tidak menyebar ke waduk.”
Program
itu akan dilakukan tahun 2016. Adapun saat ini, yang sudah dilakukan
adalah gerakan penghijauan terutama di DAS Keduang sebagai kontributor
terbesar sedimentasi waduk. Gerakan yang diberi nama Gerakan Nasional
Keselamatan dan Pemanfaatan Air ini bekerja sama dengan Kementrian
Pertanian, Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Kementrian
Pekerjaan Umum. ”Juga ada pengerukan yang dilakukan secara
periodik dengan kapal keruk yang kami miliki,” katanya.
Kepala
Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) IV Perum Jasa Tirta (PJT)
I Wilayah Sungai Bengawan Solo Winarno Susiladi mengatakan, elevasi
atau ketinggian air di Waduk Gajahmungkur terbilang masih rendah.
Belum ada pasokan air berlimpah dari hulu sungai, terutama dari
wilayah selatan Wonogiri ke waduk, sehingga Sungai (Bengawan)
Solo relatif aman dari kiriman air waduk.
Kiriman
Air
Ia
mengatakan, meluapnya Bengawan Solo dalam beberapa hari ini belakangan
ini yang menyebabkan banjir di sebagian wilayah Kota Solo itu
akibat kiriman air dari beberapa anak sungai di Klaten dan Sukoharjo.
Dia mengatakan, waduk yang dibangun 1982 itu untuk mengendalikan
banjir. Namun, sedimentasi yang sudah menumpuk menjadi persoalan
utama waduk tersebut. ”Jika sedimentasi di waduk makin tinggi,
maka air yang ditampung akan mudah meluap.”
Hasil penelitian Kantor Penelitian dan Pengembangan (Litbang)
Iptek Wonogiri bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat (LPPM) UNS menyebutkan, sedimentasi sangat mengkhawatirkan
kelangsungan waduk. Jika tidak segera diatasi, usia waduk dikhawatirkan
hanya bertahan sampai 30 tahun. Padahal, dirancang bertahan sampai
usia 100 tahun. (G13, G8-71)