![]() |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| .:
Artikel :. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
PERUBAHAN
IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP BANJIR DI JAWA TENGAH Ir.
SURYONO SURIPNO, SIP. MT.
Kepala
Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah
Pengaruh Perubahan Iklim Global atau Global Climate Change (GCC) paling nyata adalah kenaikan muka laut antara 0.09 – 0.59 m serta intensitas hujan yang akan menyebabkan kejadian banjir baik berupa genangan maupun meluapnya beberapa sungai dengan kondisi kritis.
Akhir-akhir ini sering dilakukan pembahasan tentang perubahan iklim global di beberapa seminar dan loka karya oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu serta institusi yang mengindikasikan dampak dari perubahan iklim global secara umum berupa :
Dampak lebih lanjut berupa debit ekstrim penyebab banjir dan kekeringan yang berkepanjangan yang akan menurunkan produksi pangan.
Dari kondisi kekritisan Sumber Daya Air di Indonesia nyata dirasakan :
Adapun kondisi sumber daya air di Jawa Tengah di Jawa Tengah pada 10 tahun terakhir di lihat dari 3 indikator yaitu :
Sebagai contoh debit maksimum tahunan dari S. Garang di Kota Semarang mengalami kecenderungan meningkat dari rerata 600,77m3/dt pada tahun 1990-1998 menjadi 614 m3/dt dari tahun 2003-2008.
Demikian pula koefisien regime sungai yaitu ratio antara debit maksimum terhadap debit minimum untuk sungai-sungai kritis di Jawa Tengah berkisar antara 150 - 600, hal ini telah menunjukkan kekritisan yang tinggi bila dibandingkan dengan standar dari sungai dengan DAS baik sekitar 50 – 75, demikian pula bila dilihat rerata laju erosi di daerah tangkapan Waduk Sudirman (Wd. Mrica ) sebesar 8,4 mm/tahun dibanding angka normal 2 mm/tahun.
Secara umum banjir dapat di diartikan sebagai genangan air akibat kerusakan atau luapan sungai ataupun pengaruh permukaan laut yang merugikan masyarakat. Banjir dapat terjadi sebagai akibat daya tampung sungai terlampui pada debit tertentu atau rusaknya prasarana SDA berupa tanggul ataupun pintu pengendali banjir. Peningkatan debit terjadi sebagai akibat intensitas hujan tinggi melampui normal atau respon DAS yang sudah berubah tidak lagi sesuai asumsi saat desain. Secara umum sungai – sungai di Jawa di rancang berdasar kala ulang 20 tahunan atau kemungkinan terlampui 5 % dari hasil analisis debit tahunan maksimum.
Banjir yang terjadi pada awal tahun 2009 telah menenggenangi 15 Kabupaten/Kota dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, dengan berbagai sebab antara lain terkikisnya tanggul maupun luapan sungai karena tidak dapat menampung debit yang timbul akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Banjir yng terjadi di Indonesi umumnya dan Jawa Tengah pada khususnya akan bertambah parah bila terjadi pengaruh Perubahan Iklim Global berupa kenaikan intensitas hujan atau fenomena La Nina terjadi. Oleh para pakar disebutkan bahwa tidak ada jurus yang ampuh kecuali Strategi Adaptasi terkait dengan peningkatan besaran banjir dan frekuensi banjir berupa :
Oleh karena itu perlu mendapat perhatian oleh segenap para pemangku kepentingan baik Pemerintah, Pemerintah Daerah dan segenap masyarakat.
Disamping
upaya darurat yang telah dilakukan upaya penanggulangan banjir
di Jawa Tengah 5 tahun kedepan telah dituangkan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang saat ini dalam proses
akhir berupa konservasi sumber daya air, pembangunan embung dan
waduk serta pemulihan sungai. Program jangka pendek dan menengah
berupa kegiatan konservasi SDA dilaksanakan bersama Direktorat
Jendral Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum dan para pemangku
kepentingan lainnya dalam Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan
Air (GNKPA) sesuai SK Gubernur No. 610.05/11/2007 tanggal 11 Mei
2007 Tentang Pembentukan Tim Pelaksana Harian GNKPA Provinsi Jawa
Tengah
Akhirnya kembali terpulang pada kemampuan Pemerintah serta Pemerintah Daerah untuk menyediakan anggaran cukup besar guna rehabilitasi, peningkatan infrastruktur Sumber Daya Air yang selama 10 tahun terakhir relatif stagnan yang berakibat terjadinya akumulasi masalah yang dapat membebani masyarakat. Dengan
kata lain pembangunan infrastrukur Sumber Daya Air sudah harus
menjadi sasaran prioritas utama pembangunan saat ini maupun dimasa
mendatang. Sementara itu disisi lain para ahli bidang infrastruktur
Sumber Daya Air hendaknya sudah mempersiapkan diri untuk dapat
berkiprah dalam mengemban tugas sesuai motto “Bali Ndeso
Bangun Deso” yang menantang ini.
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||