:: Artikel SDA ::


Jalan Panjang Menuju Ketahanan Pangan

Republika, 11 Oktober 2004

Laporan : reiny dwinanda


Meski memiliki kekayaan alam yang berlimpah, ketahanan pangan Indonesia masih rentan. Tahukah Anda kalau Indonesia ternyata merupakan importir beras terbesar di dunia? Jumlahnya mencapai dua juta ton per tahun. Tidak cuma itu, dengan angka impor sebesar 1,2 juta ton per tahun Indonesia juga mencatatkan diri sebagai importir kedelai terbesar. Selain beras dan kedelai, Indonesia tiap tahunnya masih mengandalkan pasokan jagung (1,5 juta ton), gandum (4,5 juta ton), kacang tanah (0,8 juta ton), dan kacang hijau (0,3 juta ton). Produksi gula pasir dunia sebagian besar masuk ke Indonesia (1,6 juta ton). Di samping itu, ternak hidup yang dipasok negara lain ke dalam negeri angkanya setara 82 ribu ton, daging sebanyak 39 ribu ton, susu dan produk susu sekitar 99 ribu ton per tahun. Mungkin angka itu membuat Anda terkejut, mungkin juga tidak. Tetapi, itulah kenyataan yang dihadapi negara dengan jumlah penduduk lebih dari 210 juta jiwa ini. Ironisnya, Indonesia terkenal sebagai negara dengan sumber keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Kekayaan sumber daya alam rupanya tidak cukup menjamin kesejahteraan rakyat. Malah, di tahun 2015 mendatang diperkirakan Indonesia akan mengalami kesenjangan antara produksi dan konsumsi nasional. Pada saat itu, penduduk Indonesia bakal mencapai 253,6 juta jiwa dan defisit beberapa komoditas pangan memukul ketahanan pangan masyarakat.
Kondisi tersebut diperparah oleh pola konsumsi pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia yang hanya terpenuhi oleh beras. Padahal, produksi beras nasional tidak mencukupi kebutuhan. ''Tidak heran kalau kemudian beras terus diimpor,'' papar Dr Siswono Yudo Husodo dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam makalahnya yang dibahas dalam Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXIV pekan lalu (5/10) di Jakarta.

Menurut Siswono, Indonesia harus segera melakukan peningkatan produksi pangan nasional. Langkah ini diyakini dapat membuat Indonesia mencukupi kebutuhan pangannya secara mandiri. ''Peningkatan produksi pangan dapat ditempuh dengan cara pengembangan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,'' jelasnya.

Keanekaragaman hayati berupa tanaman pangan, lanjut Siswono, dapat dikembangkan dan dimanfaatkan lebih optimal untuk menyediakan pangan yang dibutuhkan masyarakat. Dengan sendirinya, jenis tanaman yang dibudidayakan secara luas akan bertambah. ''Contohnya dengan menggarap tanaman serealia dan umbi-umbian yang bertindak sebagai sumber karbohidrat serta tanaman kacang-kacangan untuk sumber protein.'' Ujarnya.

Tanaman serealia dijelaskan Siswono memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan. Jagung, sorgum, juwawut, dan jali adalah beberapa di antaranya. ''Seperti di Gorontalo, varietas jagung lokal amat disukai masyarakat sebagai bahan pangan pokok,'' kata Siswono. Selain itu, Indonesia memiliki tanaman sorgum yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan tanaman serealia lain. Sorgum terkenal sangat efisien dalam penggunaan air di saat fotosintesis berlangsung. Toleransinya terhadap iklim panas juga sangat tinggi. ''Peluangnya sebagi subsitusi beras cukup tinggi di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogjakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur,'' ucap Siswono.

Di samping itu, ada tanaman juwawut dan jali yang dapat ditanam di lahan kering. Lingkungan hidupnya mirip sorgum hingga peluang pengembangannya juga tidak jauh berbeda. ''Khusus untuk jali, pengolahannya lebih mudah dibandingkan dengan padi,'' kata Siswono. Indonesia pun memiliki tanaman umbi-umbian yang bisa dimanfaatkan secara lebih optimal. Ubi kayu, ubi jalar, talas, kimpul, garut, dan ganyong dapat menjadi bahan pangan utama pengganti beras. ''Apalagi mengingat umbi-umbian unggul dari segi kemampuannya beradaptasi pada lahan marginal dan iklim kering, biaya produksinya lebih murah ketimbang tanaman biji, serta potensi produktivitasnya bisa mencapai 15 sampai 40 ton per hektare,'' papar Siswono.

Siswono menjelaskan tanaman kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang bogor, kacang tunggak, kacang gude, kecipir, komak, koropedang, korowedus, dan benguk punya potensi sebagai pengganti beras. Tanaman tersebut cukup toleran terhadap kekeringan. ''Protein dan kalorinya pun tinggi,'' ujarnya.

Pemanfaatan sagu disebutkan Siswono sebagai alternatif lain sumber pangan. Tanaman asli Indonesia yang merupakan penghasil pati tertinggi di antara keluarga Palma ini banyak terdapat di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Sumatera. ''Dulu, sagu populer sebagai makanan pokok penduduk namun mulai ditinggalkan sejak 1980-an,'' ceritanya.

Siswono mengatakan sudah saatnya Indonesia mengonsumsi sumber pangan yang lebih variatif. Terlebih, sumbernya banyak terdapat di alam. ''Kalau sudah begitu, ketergantungan impor bahan makanan dengan sendirinya akan menurun,'' tandasnya. Kembali ke sagu?



Profil Dinas PSDA | Potensi SDA | Neraca Air
Pemanfaatan Air | Info Bencana | Info Proyek
| Buletin Kegiatan | Kutipan Media
Galeri Foto
| Koperasi Tirta Sakti
| Home

Sampaikan saran dan masukan Anda ke :
webmaster@psdajateng.go.id 
atau seksirepot@psdajateng.go.id