![]() |
|
| ::
Artikel SDA :: |
|
|
OLEH
: |
|
![]() |
|
| Biasanya kalau kita mendengar kata konservasi sumber daya air yang berarti pengawetan atau pelestarian air atau sumber air terbagayang suatu kegiatan dengan focus dibagian hulu suatu system sungai dan terbayang suatu infrastruktur Seperti waduk, embung, check dam dan ground sill. Konservasi SDA di bagian hilir suatu ruas sungai atau system sungai berfungsi pula untuk mengawetkan dan melestarikan fungsi sumber air (sungai) dan air (tawar) itu sendiri.
Secara umum system sungai dapat dibagi menjadi tiga ruas yaitu hulu, tengah dan hilir, dengan cirri fisik yang mudah terlihat adalah pada bagian hulu memiliki kemiringan dasar yang relative curam (>0.06), sedangkan pada bagian tengah memiliki kemiringan dasar sedang atau cukup landai yaitu berkisar antara >0.003 dan <0.06 serta cirri lain terjadi endapan dan gerusan di sepanjang ruas ini sesuai regime sungainya. Pada ruas hilir sungai memiliki cirri kemiringan dasar sangat landai (<0.003), banyak endapan, terpengaruh pasang surut muka air laut dan intrusi air laut dengan permasalahan utama pada muara. Pada sungai dengan kondisi DAS rusak yaitu dengan nisbah debit maksimum dan minimum > 150, akan dijumpai kerusakan tebing pada bagian luar dan terjadi endapan berlebihan pada bagian tikungan dalam, sering terjadi genangan banjir akibat luapan sebagai akibat daya tamping alur yang terlampaui. Pada bagian muara permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan kehidupan nelayan disekitarnya yaitu penyediaan air bersih, intrusi air laut berdampak kualitas air pada sumur prnduduk disekitar alur tidak layak minum, tambatan perahu nelayan yang berlebihan mengurangi kapasitas tampung (passing capacity) ruas tersebut berakibat luapan disekitar alur , terbentuknya semenanjung akibat endapan yang berlangsung lama menimbulkan perselisihan kepemilikan serta kerusakan muara akibat abrasi maupun akresi yang berlebihan.
Tujuan
konservasi hilir sejalan dengan konservasi SDA dibagian hulu dengan
lebih banyak pada upaya mengurangi puncak banjir pada tingkat tertentu
sesuai kapasitas yang masih dapat ditampung oleh alur tersebut (gambar1).
Tingkat banjir dimaksud adalah kala ulang atau probabilitas tertentu
misal debit banjir 25 tahunan yang berarti memiliki kmungkinan terlampui
4 %, sehinga dalam desain kapasitas alur akan tergantung asumsi asumsi
yang digunakan ditengah dinamika perubahan DAS akibat perlakuan oleh
manusia yang tinggal didalamnya.Tujuan lain adalah menahan air tawar
sekaligus mengurangi pengaruh intrusi air laut kehulu. Seperti diketahui
bahwa diruas hilir dan muara sungai biasanya terdapat pemukiman nelayan
dengan aktifitasnya dilaut, kebutuhan air baku untuk kehidaupan mereka
jauh dari memadai khususnya pada musim kemarau, dengan infrastruktur
konservasi diharapkan dapat menampung air tawar dari hulu sebagai “return
flow” yang dapat diolah lanjut untuk kebutuhan dmestik bagi warga
disekitar alur dan muara bahkan bila jumlah memadai dapat pula dimanfaatkan
bagi daerah lain yang lebih jauh. |
|
![]() |
|
| Gambar
1. Ilustrasi pengurangan puncak banjir oleh usaha konservasi |
|
| Tipikal Infrastruktur Konservasi SDA | |
| Infrastruktur
konservasi di ruas hilir suatu sungai selain bertujuan memenuhi berbagai
kebutuhan dan fungsinya perlu memperhatikan aspek lingkungan khususnya
biota air yang hidup pada bagian dengan air payau serta mobilisasi ikan
dari hilir kehulu atau sebaliknya. Beberapa bangunan yang dapat digunakan
dalam konservasi di ruas hilir suatu sungai antar lain (1) kolam retensi
yang dilengkapi dengan intake dan outlet berupa pintu pengatur baik
dengan pompa ataupun tidak(gambar2).(2) bendung gerak baik berupa pintu
gerak ataupun bending karet yang dilengkapi dengan tangga ikan ataupun
alur pelayaran guna lalu lintas perahu dari hulu kehilir ataupun sebaliknya
(3) ground sill yang berfungsi menahan lidah air asin untuk mengurangi
pengaruh intrusi air laut (4) perlindungan tebing untuk menahan longsoran
baik akibat gerusan oleh arus sat banjir ataupun gelombang yang ditimbulkan
leh lalu lintas perahu atau kapal. Konservasi dengan pendekatan struktur
tersebut sebaiknya dilengkapi dengan konservasi secara vegetatif seperti
pohon bakau , nipah dan pohon keras lainnya yang sesuai dan bermanfaat
untuk konservasi SDA dan aneka ragam hayati di ruas sungai hilir disertai
dengan penataan yang teratur.
|
|
![]() |
|
| Gambar
2. Ilustrasi waduk lapangan (retention basin) |
|
| Sinergitas Dalam Pendayagunaan | |
| Infrastruktur
SDA di ruas hilir suatu sungai dapat didayagunakan bersinergi dengan
sektor pariwisata, perikanan dan olah raga bahkan pendidikan dengan
terlebih dahulu disiapkan melalui konsep yang matang . Banyak infrastruktur
SDA belum dimanfaatkan secara optimal dan bersinergi dengan sektor lain.
Oleh karena itu diperlukan suatu dokumen perencanaan yang utuh mencakup
beberapa sektor terintegrasi di dalamnya sehingga dapat ditindak lanjuti
pada proses desain dan pelaksanaan konstuksi serta kegiatan non fisik
lainnya. Dokumen perencanaan SDA diawali dengan Pola Pengelolaan Wilayah
Sungai, Rencana Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang selanjutnya diikuti
dengan berbagai studi kelayakan untuk kemudian diikuti dengan desain
pada kegiatan terpilih. Proses panjang ini akan melibatkan berbagai
sektor dan disiplin ilmu guna menghasilkan suatu infrastruktur SDA yang
memiliki manfaat optimal bagi masyarakat. Terkaitnya berbagai sector
dalam pembangunan infrastruktur SDA tersebut akan semakin banyak pihak
terlibat dan diharapkan peduli sehingga keberlanjutan fungsi infrastruktur
tersebut semakin terjamin. Di beberapa sungai khususnya dipantura diberbagai
daerah memiliki permasalahan sampah yang sama meskipun berbagai kampanye
telah dilakukan, bila hal ini dapat diatasi secara nyata dan menerus
akan meringankan langkah selanjutnya dalam mensinergika n infrastruktur
SDA dengan sector pariwisata dan olah raga . Sebagai contoh tipikal
bangunan di ruas hlir suatu sungai berupa aduk lapangan atau kolam retensi
dapat dimanfaatkan menjadi wisata kuliner dengan pemancingan dan olah
raga air, dpat pula dikembangkan suatu resort bernuansa air yang sangat
diminati dewasa ini. Dengan demikian akan tercipta suatu kawasan hasil
sinergi berbagai sektor di ruas hilir sungai yang bermanfaat bagi masyarakat
terutama masyarakat disekitar alur yang didukung fungsi sumber daya
air yang berkelanjutan. |
|
| Peran serta Masyarakat | |
| Upaya
konservasi sumber daya air tidak dapat dilaksanakan oleh satu sector
sendiri atau tanpa mengiutsertakan masyarakat, hal ini dapat dilihat
diberbagai alur sungai khususnya di Indonesia. Peran serta masyarakat
dapat terwujud setelah melalui proses pemahaman yang mendalam tentang
fungsi dan manfaat peran serta mereka bagi kehidupan mereka khususnya
dan bagi wilayah mereka secara umum. Berbagai metoda pemberdayaan masyarakat
telah banyak dilakukan dalam upaya konservasi sumber daya air namun
perlu dicermati agar lebih efektif dalam meningkatkan peran serta masyarakat
perlu lebih fokus pada masyarakat yang paling dekat dengan obyek yaitu
infrastruktur sumber daya air dan melalui interaksi lanjut akan terjadi
efek sebar dalam proses pemberdayaan masyarakat tersebut. Perlu diperhatikan
bahwa peran serta yang diharapkan (oleh kedua belah pihak) harus merupakan
“win win solution”, bagi masyarakat akan mendapatkan suatu
peningkatan kesejahteraan dipihak lain bagi pengelola akan mendapatkan
“biaya operasional “ yang relative murah serta jaminan keamanan
dan keberlanjutan fungsi infrastruktur itu sendiri. Oleh karena itu
peran serta masyarakat dalam pengelolaan infratruktur sumber daya air
merupakan jaminan keberlanjutan fungsi sumber daya air. |
|
| Perencanaan Kali Bodri Sebagai Pilot | |
| Sungai
Bodri mengalir dari lereng pegunungan Dieng dan Ungaran kearah utara
bermuara ke Laut Jawa. Secara Administratif, luas DAS Bodri sampai muara
adalah 610,8 km2, terbagi atas 5 sub DAS, yaitu Sub DAS Lutut, Sub DAS
Logung, Sub DAS Putih, Sub DAS Blorong dan Sub DAS Bodri Hilir, meliputi
4 wilayah kabupaten, yaitu KAb. Temanggung (4 kecamatan), KAb. Kendal
(12 kecamatan), KAbupaten Semarang (1 kecamatan) dan 2 kecamatan di
Kota Semarang. Batas wilayah sungai Bodri di sebelah barat adalah DAS
Blukar sedangkan DAS Blorong, DAS Kendal dan DAS Buntu di sebelah timur.
Sebelah selatan berbatasan dengan Wilayah Sungai Progo Opak Serang,
dengan sebelah utara Laut Jawa. Secara Topografi, hulu sungai Bodri
terdiri atas daerah pegunungan, yaitu Gunung Dieng +2565 di sebelah
barat dan Gunung Ungaran +2050 m di sebelah timur. Memiliki kemiringan
rata-rata hulu antara 0,008 – 0,03, tengah antara 0,001 –
0,008, dan hilir 0 – 0,0009. Topografi pada bagian selatan DAS
Bodri merupakan wilayah dari system Gunung Sindoro dan Dieng Timur,
sedangkan bagian timur DAS Bodri merupakan system lahan gurung Ungaran,
di mana kedua gunung berapi ini diperkirakan berumur kuarter tua. |
|
![]() |
|
| Gambar
3. Lokasi Kali Bodri |
|
![]() |
|
| Gambar
4. Sistem Sungai Kali Bodri |
|
| Pemilihan Kali Bodri sebagai pilot project didasarkan pada Lingkup Kegiatan Konservasi Kali Bodri meliputi: | |
| Kajian
Sistem pengendalian banjir Kali Bodri pada kota Kendal dan sekitarnya,
antara lain dengan alternatif: saluran pengelak banjir, tanggul/dinding
penahan banjir, partisipasi masyarakat |
|
Usulan
bangunan konservasi Ruas sungai Hilir kali Bodri dan pendayagunaan Sumber
Daya Air, meliputi: kolam retensi, bendung karet, dan penataan kawasan
sisi sungai (riverside) |
|
| Usulan perbaikan sarana dan Prasarana Pengendalian Banjir Kali Bodri | |
Usulan
Partisipasi Masyarakat dan Instansi terkait dalam konservasi Kali Bodri
pada ruas sungai hilir |
|
Studi
kelayakan bangunan konservasi |
|
| Rekomendasi bangunan konservasi Kali Bodri meliputi: | |
| Aternatif
bangunan konservasi berupa bendung karet tidak mungkin dilaksanakan
karena alur sungai bodri dimanfaatkan sebagai jalur navigasi perahu
nelayan, dikhawatirkan dapat menimbulkan berbagai konflik kepentingan
antara pengguna Kali Bodri terutama sebagai jalur navigasi. |
|
Beberapa
lokasi yang layak untuk dibangun kolam retensi antara lain di Dusun
Debong Kidul, Desa Botomulyo Kec. Cepiring dan kolam retensi di dusun
Kersan, desa Tegorejo Kecamatan Pegadon. |
|
| Terdapat dua lokasi yang layak digunakan untuk penataan kawasan tepi sungai (riverside) yaitu Bendung Juwero yang berlokasi di Dusun Parakan, Desa Pekuncen, Kec. Pegadon dan penataan kawasan tepi sungai Welangsari di Dusun Welangsari, Desa Korowelang, Kec. Patebon. | |
![]() |
|
![]() |
|
Gambar
5. Kondisi Eksisting Kali Bodri |
|
![]() |
|
POTENSI
PENATAAN KAWASAN TEPI SUNGAI (RIVERSIDE) |
|
TEMPAT
PELELANGAN IKAN (TPI) |
|
Lokasi
Dusun Welangsari, Desa Korowelang, Kecamatan Patebon |
|
![]() |
|