:: Artikel SDA ::
 
 


KONSERVASI SDA PADA RUAS HILIR SUNGAI

 

OLEH :
Ir. FX. PRI JOEWO GUNTORO Dipl. HE. M.Si.

 
 

Biasanya kalau kita mendengar kata konservasi sumber daya air yang berarti pengawetan atau pelestarian air atau sumber air terbagayang suatu kegiatan dengan focus dibagian hulu suatu system sungai dan terbayang suatu infrastruktur Seperti waduk, embung, check dam dan ground sill. Konservasi SDA di bagian hilir suatu ruas sungai atau system sungai berfungsi pula untuk mengawetkan dan melestarikan fungsi sumber air (sungai) dan air (tawar) itu sendiri.


Ruas Hilir Sungai

Secara umum system sungai dapat dibagi menjadi tiga ruas yaitu hulu, tengah dan hilir, dengan cirri fisik yang mudah terlihat adalah pada bagian hulu memiliki kemiringan dasar yang relative curam (>0.06), sedangkan pada bagian tengah memiliki kemiringan dasar sedang atau cukup landai yaitu berkisar antara >0.003 dan <0.06 serta cirri lain terjadi endapan dan gerusan di sepanjang ruas ini sesuai regime sungainya. Pada ruas hilir sungai memiliki cirri kemiringan dasar sangat landai (<0.003), banyak endapan, terpengaruh pasang surut muka air laut dan intrusi air laut dengan permasalahan utama pada muara. Pada sungai dengan kondisi DAS rusak yaitu dengan nisbah debit maksimum dan minimum > 150, akan dijumpai kerusakan tebing pada bagian luar dan terjadi endapan berlebihan pada bagian tikungan dalam, sering terjadi genangan banjir akibat luapan sebagai akibat daya tamping alur yang terlampaui. Pada bagian muara permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan kehidupan nelayan disekitarnya yaitu penyediaan air bersih, intrusi air laut berdampak kualitas air pada sumur prnduduk disekitar alur tidak layak minum, tambatan perahu nelayan yang berlebihan mengurangi kapasitas tampung (passing capacity) ruas tersebut berakibat luapan disekitar alur , terbentuknya semenanjung akibat endapan yang berlangsung lama menimbulkan perselisihan kepemilikan serta kerusakan muara akibat abrasi maupun akresi yang berlebihan.


Tujuan Konservasi Pada Ruas Hilir

Tujuan konservasi hilir sejalan dengan konservasi SDA dibagian hulu dengan lebih banyak pada upaya mengurangi puncak banjir pada tingkat tertentu sesuai kapasitas yang masih dapat ditampung oleh alur tersebut (gambar1). Tingkat banjir dimaksud adalah kala ulang atau probabilitas tertentu misal debit banjir 25 tahunan yang berarti memiliki kmungkinan terlampui 4 %, sehinga dalam desain kapasitas alur akan tergantung asumsi asumsi yang digunakan ditengah dinamika perubahan DAS akibat perlakuan oleh manusia yang tinggal didalamnya.Tujuan lain adalah menahan air tawar sekaligus mengurangi pengaruh intrusi air laut kehulu. Seperti diketahui bahwa diruas hilir dan muara sungai biasanya terdapat pemukiman nelayan dengan aktifitasnya dilaut, kebutuhan air baku untuk kehidaupan mereka jauh dari memadai khususnya pada musim kemarau, dengan infrastruktur konservasi diharapkan dapat menampung air tawar dari hulu sebagai “return flow” yang dapat diolah lanjut untuk kebutuhan dmestik bagi warga disekitar alur dan muara bahkan bila jumlah memadai dapat pula dimanfaatkan bagi daerah lain yang lebih jauh.

 
Gambar 1. Ilustrasi pengurangan puncak banjir oleh usaha konservasi
 
Tipikal Infrastruktur Konservasi SDA
Infrastruktur konservasi di ruas hilir suatu sungai selain bertujuan memenuhi berbagai kebutuhan dan fungsinya perlu memperhatikan aspek lingkungan khususnya biota air yang hidup pada bagian dengan air payau serta mobilisasi ikan dari hilir kehulu atau sebaliknya. Beberapa bangunan yang dapat digunakan dalam konservasi di ruas hilir suatu sungai antar lain (1) kolam retensi yang dilengkapi dengan intake dan outlet berupa pintu pengatur baik dengan pompa ataupun tidak(gambar2).(2) bendung gerak baik berupa pintu gerak ataupun bending karet yang dilengkapi dengan tangga ikan ataupun alur pelayaran guna lalu lintas perahu dari hulu kehilir ataupun sebaliknya (3) ground sill yang berfungsi menahan lidah air asin untuk mengurangi pengaruh intrusi air laut (4) perlindungan tebing untuk menahan longsoran baik akibat gerusan oleh arus sat banjir ataupun gelombang yang ditimbulkan leh lalu lintas perahu atau kapal. Konservasi dengan pendekatan struktur tersebut sebaiknya dilengkapi dengan konservasi secara vegetatif seperti pohon bakau , nipah dan pohon keras lainnya yang sesuai dan bermanfaat untuk konservasi SDA dan aneka ragam hayati di ruas sungai hilir disertai dengan penataan yang teratur.

Gambar 2. Ilustrasi waduk lapangan (retention basin)
 
Sinergitas Dalam Pendayagunaan
Infrastruktur SDA di ruas hilir suatu sungai dapat didayagunakan bersinergi dengan sektor pariwisata, perikanan dan olah raga bahkan pendidikan dengan terlebih dahulu disiapkan melalui konsep yang matang . Banyak infrastruktur SDA belum dimanfaatkan secara optimal dan bersinergi dengan sektor lain. Oleh karena itu diperlukan suatu dokumen perencanaan yang utuh mencakup beberapa sektor terintegrasi di dalamnya sehingga dapat ditindak lanjuti pada proses desain dan pelaksanaan konstuksi serta kegiatan non fisik lainnya. Dokumen perencanaan SDA diawali dengan Pola Pengelolaan Wilayah Sungai, Rencana Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang selanjutnya diikuti dengan berbagai studi kelayakan untuk kemudian diikuti dengan desain pada kegiatan terpilih. Proses panjang ini akan melibatkan berbagai sektor dan disiplin ilmu guna menghasilkan suatu infrastruktur SDA yang memiliki manfaat optimal bagi masyarakat. Terkaitnya berbagai sector dalam pembangunan infrastruktur SDA tersebut akan semakin banyak pihak terlibat dan diharapkan peduli sehingga keberlanjutan fungsi infrastruktur tersebut semakin terjamin. Di beberapa sungai khususnya dipantura diberbagai daerah memiliki permasalahan sampah yang sama meskipun berbagai kampanye telah dilakukan, bila hal ini dapat diatasi secara nyata dan menerus akan meringankan langkah selanjutnya dalam mensinergika n infrastruktur SDA dengan sector pariwisata dan olah raga . Sebagai contoh tipikal bangunan di ruas hlir suatu sungai berupa aduk lapangan atau kolam retensi dapat dimanfaatkan menjadi wisata kuliner dengan pemancingan dan olah raga air, dpat pula dikembangkan suatu resort bernuansa air yang sangat diminati dewasa ini. Dengan demikian akan tercipta suatu kawasan hasil sinergi berbagai sektor di ruas hilir sungai yang bermanfaat bagi masyarakat terutama masyarakat disekitar alur yang didukung fungsi sumber daya air yang berkelanjutan.
 
Peran serta Masyarakat
Upaya konservasi sumber daya air tidak dapat dilaksanakan oleh satu sector sendiri atau tanpa mengiutsertakan masyarakat, hal ini dapat dilihat diberbagai alur sungai khususnya di Indonesia. Peran serta masyarakat dapat terwujud setelah melalui proses pemahaman yang mendalam tentang fungsi dan manfaat peran serta mereka bagi kehidupan mereka khususnya dan bagi wilayah mereka secara umum. Berbagai metoda pemberdayaan masyarakat telah banyak dilakukan dalam upaya konservasi sumber daya air namun perlu dicermati agar lebih efektif dalam meningkatkan peran serta masyarakat perlu lebih fokus pada masyarakat yang paling dekat dengan obyek yaitu infrastruktur sumber daya air dan melalui interaksi lanjut akan terjadi efek sebar dalam proses pemberdayaan masyarakat tersebut. Perlu diperhatikan bahwa peran serta yang diharapkan (oleh kedua belah pihak) harus merupakan “win win solution”, bagi masyarakat akan mendapatkan suatu peningkatan kesejahteraan dipihak lain bagi pengelola akan mendapatkan “biaya operasional “ yang relative murah serta jaminan keamanan dan keberlanjutan fungsi infrastruktur itu sendiri. Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam pengelolaan infratruktur sumber daya air merupakan jaminan keberlanjutan fungsi sumber daya air.
 
Perencanaan Kali Bodri Sebagai Pilot
Sungai Bodri mengalir dari lereng pegunungan Dieng dan Ungaran kearah utara bermuara ke Laut Jawa. Secara Administratif, luas DAS Bodri sampai muara adalah 610,8 km2, terbagi atas 5 sub DAS, yaitu Sub DAS Lutut, Sub DAS Logung, Sub DAS Putih, Sub DAS Blorong dan Sub DAS Bodri Hilir, meliputi 4 wilayah kabupaten, yaitu KAb. Temanggung (4 kecamatan), KAb. Kendal (12 kecamatan), KAbupaten Semarang (1 kecamatan) dan 2 kecamatan di Kota Semarang. Batas wilayah sungai Bodri di sebelah barat adalah DAS Blukar sedangkan DAS Blorong, DAS Kendal dan DAS Buntu di sebelah timur. Sebelah selatan berbatasan dengan Wilayah Sungai Progo Opak Serang, dengan sebelah utara Laut Jawa. Secara Topografi, hulu sungai Bodri terdiri atas daerah pegunungan, yaitu Gunung Dieng +2565 di sebelah barat dan Gunung Ungaran +2050 m di sebelah timur. Memiliki kemiringan rata-rata hulu antara 0,008 – 0,03, tengah antara 0,001 – 0,008, dan hilir 0 – 0,0009. Topografi pada bagian selatan DAS Bodri merupakan wilayah dari system Gunung Sindoro dan Dieng Timur, sedangkan bagian timur DAS Bodri merupakan system lahan gurung Ungaran, di mana kedua gunung berapi ini diperkirakan berumur kuarter tua.
 
Gambar 3. Lokasi Kali Bodri
 
Gambar 4. Sistem Sungai Kali Bodri
 
Pemilihan Kali Bodri sebagai pilot project didasarkan pada Lingkup Kegiatan Konservasi Kali Bodri meliputi:
   
 
Kajian Sistem pengendalian banjir Kali Bodri pada kota Kendal dan sekitarnya, antara lain dengan alternatif: saluran pengelak banjir, tanggul/dinding penahan banjir, partisipasi masyarakat
 
Usulan bangunan konservasi Ruas sungai Hilir kali Bodri dan pendayagunaan Sumber Daya Air, meliputi: kolam retensi, bendung karet, dan penataan kawasan sisi sungai (riverside)
   
Usulan perbaikan sarana dan Prasarana Pengendalian Banjir Kali Bodri
 
Usulan Partisipasi Masyarakat dan Instansi terkait dalam konservasi Kali Bodri pada ruas sungai hilir
   
Studi kelayakan bangunan konservasi
 
 
Rekomendasi bangunan konservasi Kali Bodri meliputi:
 
 
Aternatif bangunan konservasi berupa bendung karet tidak mungkin dilaksanakan karena alur sungai bodri dimanfaatkan sebagai jalur navigasi perahu nelayan, dikhawatirkan dapat menimbulkan berbagai konflik kepentingan antara pengguna Kali Bodri terutama sebagai jalur navigasi.
 
Beberapa lokasi yang layak untuk dibangun kolam retensi antara lain di Dusun Debong Kidul, Desa Botomulyo Kec. Cepiring dan kolam retensi di dusun Kersan, desa Tegorejo Kecamatan Pegadon.
   
Terdapat dua lokasi yang layak digunakan untuk penataan kawasan tepi sungai (riverside) yaitu Bendung Juwero yang berlokasi di Dusun Parakan, Desa Pekuncen, Kec. Pegadon dan penataan kawasan tepi sungai Welangsari di Dusun Welangsari, Desa Korowelang, Kec. Patebon.
 
 
Gambar 5. Kondisi Eksisting Kali Bodri
 
 
POTENSI PENATAAN KAWASAN TEPI SUNGAI (RIVERSIDE)
TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI)
Lokasi Dusun Welangsari, Desa Korowelang, Kecamatan Patebon
 
 

Sampaikan saran dan masukan Anda ke :
dispsda@jawatengah.go.id 
atau dispsda@yahoo.com