![]() |
|
| ::
Kutipan Media :: |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
||
BEBERAPA
daerah seperti di Jawa Tengah dilanda hujan lebat dan angin kencang
yang mengakibarkan banyak rumah penduduk hancur dan pohon-pohon bertumbangan.
Sementara itu di beberapa daerah Seperti di Jawa Barat terjadi tanah
longsor meskipun masih dalam skala kecil. Berdasarkan prakiraan cuaca
dan pengalaman sebelumnya, curah hujan ini masih berpeluang terus meningkat
sarnpai mencapai puncaknya sehingga masih mungkin terjadi peluang turun
hujan yang lebih lebat dan berlangsung lebih lama. Suatu indikasi bahwa
kita harus mulai berhati-hati terhadap terjadinya bencana banjir dan
longsor.
Hasil analisis Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang dilakukan Tim Pemantau Cuaca Lapan menunjukkan bahwa pada dasarian II November 2004 lTCZ berada sedikit di bawah garis ekuator. Zona tersebut memanjang dan Sumatera bagian selatan hingga Sulawesi bagian utara. Sementara South Pacific Convergence Zone (SPCZ) mendekati Papua bagian tengah sehingga awan hujan banyak berkumpul di sekitar Papua dan Maluku Selatan. Peluang hujan mengikuti posisi kumpulan awan terutama di seluruh wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku Selatan, Papua, Jawa bagian barat, dan Jawa bagian tengah. Khusus Pulau Jawa, peningkatan awan hujannya cukup signifikan terutama di jalur selatan Jawa bagian barat dan tengah. Banten dan DKI juga telah menunjukkan peluang hujan karena terdapat pengumpulan awan hujan di sekitarnya. Sementara liputan awan di wilayah lainnya masih dalam kondisi peralihan cerah hingga berawan hujan. Hujan lebat dan angin kencang yang terjadi daiam beberapa hari terakhir ini dipacu oleh terjadinya siklon Muifa di sebelah barat laut Filipina. Berdasarkan citra satelit NOAA-AVHRR yang diterima oleh sistem stasiun bumi satelit lingkungan dan cuaca Lapan pada tanggal 20 November 2004 Pukul 13.37 WIB (gambar 1) tampak bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia tengah dan barat, kecuali Pulau Timor, tertutup awan tebal yang berarti mempunyai peluang hujan khususnya di Sumatera bagian barat, sepanjang pantai utara Jawa, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Siklon Muifa itu terus bergerak ke arah barat menuju Teluk Benggala, dan berdasarkan citra satelit NOAA-AVHRR pada tanggal 22 November 2004 pukui 13. 15 WIB, siklon tersebut sudah mendekati daratan Indochina. Tetapi, pada waktu itu muncul badai lain di sebelah utara Filipina. Siklon tropis ini mengakibatkan hampir seluruh wilayah Indonesia tertutup awan, yang berarti juga terjadinya hujan di daerah-daerah tersebut. Berdasarkan citra satelit NOAA-AVHRR tanggal 24 November 2004 pukui 14.31 WIB (gambar 2) siklon Muifa tersebut sudah berada di pantai selatan daratan Indochina, dan mengakibatkan seluruh Pulau Jawa, Kalimantan Barat, Surnatera Selatan, dan sebagian besar pantai barat Sumatera tertutup awan, yang menyebabkan daerah-daerah tersebut dilanda hujan cukup lebat. Hasil pemantauan cuaca pada tanggal 2 Desember 2004 yang dilakukan Tim Pemantau Cuaca Lapan menunjukkan bahwa siklon Nanmadol telah mengenai Filipina dan diperkirakan terjadi badai di daerah tersebut yang akan bertahan Selama beberapa hari. Kondisi ini diperkirakan juga akan mengakibatkan Kalimantan serta sebagian besar wilayah Jawa dan Sumatera berpeluang hujan lebat (gambar 3). |
||
![]() |
||
| Cuaca -- Citra satelit NOAA-AVHRR yang diterima oleh stasiun bumi satelit lingkungan dan cuaca Lapan pada 20 November 2004 pukul 13.37 WIB menunjukkan siklon Muifa di sebelah barat laut Filipina dan wilayah Indonesia yang tertutup awan. | Siklon Muifa -- Citra satelit NOAA-AVHRR stasiun bumi satelit lingkungan dan cuaca Lapan pada 24 November 2004 pukul 14.31 WIB menunjukkan siklon Muifa yang sudah mencapai pantai selatan daratan Indochina dan daerah-daerah Indonesia yang tertutup awan. | Awan -- Citra satelit Feng Yun stasiun bumi satelit lingkungan dan cuaca Lapan pada 1 Desember 2004 pukul 23.00 WIB menunjukkan daerah-daerah di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang tertutup awan cukup tebal. |
Berdasarkan kondisi keawanan dan pergerakan angin, diperkirakan pada tanggal 3 Desember 2004 peluang hujan tidak banyak berubah, bahkan diperkirakan akan terjadi peningkatan curah hujan di daerah Jawa Timur; Bali, dan Kalimantan Selatan karena terdapat tekanan rendah dan perputaran angin di utara Jawa Timur. ***
URAIAN di atas menunjukkan bahwa cuaca buruk yang terjadi beberapa
hari terakhir ini disebabkan oleh depresi tropis dan siklon yang terjadi
di bumi belahan utara. Akan tetapi, sejalan dengan perpindahan posisi
matahari dan bumi belahan utara ke bumi belahan selatan, hal itu pada
umumnya mengakibatkan terjadinya tekanan rendah di bumi belahan selatan.
Adapun
data/informasi nonspasial yang sangat penting adalah kemampuan operasional
sistem pengendali banjir. Untuk itu harus tersedia data/informasi, khususnya
informasi spasial dan terbarukan tentang prediksi curah hujan dan cuaca
ekstrem harian, lahan kritis, bentuk lahan, perubahan penggunaan/penutup
lahan, daerah aliran sungai, dan perkernbangan permukiman di daerah
rawan banjir dan tanah longsor. Penggunaan teknologi pengindraan jauh
multilevel dapat membantu mempercepat penyediaan data/informasi spasial
digital dinamis sehingga data/informasinya selalu up-to-date, mudah
dan mudah didiseminasikan dengan cepat.
BIDAWI
HASYIM |
||||||