|
Selamatkan Bumi dengan Eco AgroForestry Climatology
Republika, 11 Oktober 2004
Keberadaan bumi kian hari semakin menunjukkan tanda-tanda kehancuran.
Berbagai fenomena bencana alam yang tak terduga semakin gencar memperlihatkan
kehebatannya. Mulai dari banjir, kebakaran hutan, kekeringan, naiknya
permukaan air laut, hilangnya suatu kawasan, longsor, dan bencana alam
lainnya.
''Ini semua diakibatkan kurangnya penanganan hutan secara global,'' ungkap
guru besar Fakultas Kehutanan, IPB, Prof Hadi S Ali Kodra, beberapa waktu
lalu. Peristiwa kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia dan beberapa
kawasan hutan di luar negeri lainnya, bukan dari kesalahan bangsa Indonesia
semata. Hal ini sudah permasalahan global, dan menyangkut dunia internasional.
Kerusakan hutan dan ekosistemnya itu merupakan tanggung jawab seluruh
negara di dunia, bukan diakibatkan oleh salah satu negara saja.
Jika ditinjau secara mendalam, akar permasalahannya adalah adanya pemanasaan
global yang diakibatkan oleh banyaknya kawasan industri di dunia. Apalagi,
pemanasan global semakin meningkat hingga tahun 2004. Faktor utama adalah
industries country. Kawasan industri itulah yang membuat bumi menjadi
panas, dan berdampak ke segala sisi kehidupan, baik manusia, maupun lingkungan
hidup.
Permukaan air laut saat ini sudah naik hingga mencapai 0,5 sampai 1 inci.
Itu disebabkan karena pemanasan global, di mana suhu naik, kemudian membuat
es kutub mancair hingga permukaan air laut tinggi. Bukan itu saja, hutan
Kalimantan, Sumatra, salju abadi di Kalimanjaro dan Pegunungan Jaya Wijaya
akan hilang dalam kurun waktu lima sampai 10 tahun mendatang jika hutan
yang ada sekarang tidak diantisipasi sejak dini. Kerusakan hutan di Indonesia
terus berlanjut hingga tiap tahunnya hancur seluas 3,5 juta hektare, dan
sekarang suhu pun bertambah hingga 5 derajat Celcius. Ali Kodra mengungkapkan
konsep untuk mengantisipasi polemik di atas, yakni dengan Eco AgroForestry
Climatology. Konsep ini pada dasarnya adalah bagaimana memanajemen hutan
dengan baik.
Jika ekologi di dunia berubah, maka secara langsung cuaca pun akan berubah,
dan itu akan mempengaruhi kehidupan manusia serta mahluk hidup lainnya.
Langkah antisipasinya adalah dengan agroforestry, yakni langkah manajemen
hutan dengan baik. Hutan yang ada sekarang harus bisa ditata dengan baik,
namun perlu dilakukan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak. Selain
itu, pemerintah lokal dan daerah harus sama-sama memiliki visi yang sama
dalam mentata kehutanannya. Koordinasi berbagai pihak sangat diperlukan,
yakni Departemen kehutanan, kepolisian, jaksa, pengusaha dan masyarakat.
Indonesia harus bisa mengembangkan kapasitas kebijakan kehutanan baik
itu ke dalam maupun luar negeri. (laporan : c06).
|