![]() |
|
| ::
Artikel SDA :: |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
|||
|
Kehadiran mereka kerap berkelompok dan berkeliaran di sekitar pintu masuk mata air itu, yang berupa gapura khas Bali. Sesuai tugasnya, yang senantiasa berada di garis depan melindungi tuan rumahnya, mereka sering terlihat di pintu gapura itu. Mereka hanya terusik bila mencium bau makanan. Geraknya gesit mencari sumber bau makanan itu. Melalui relung-relung gapura itu, sangat terasa nuansa arsitektur yang hadir bernuansa candi agama Hindu, seperti Prambanan. Sebab, sumber air itu diyakini ditemukan pertama kali oleh Pangeran Singonegoro, seorang penganut agama Hidnu Syiwa. Di sekitar sumber air itu juga ada cungkup makam yang diyakini makam pangeran itu dan istrinya. Oleh agama Budha pun, air pada sumber itu dipercaya sebagai air suci untuk memperingati Hari Raya Waisak. "Setiap Waisak, umat Budha mengambil air dari sini," ujar Muhtasori (38) penjaga tempat itu, Muhtasori menuturkan, Pangeran Singonegoro itu adalah seorang penasehat spiritual raja Majapahitm yang menyingkir pergi di penghujung runtuhnya Kerajaan Majapahit. Dalam perjalanannya itu, bersama kedua puluh kera yang mengawalnya, dia menemukan sendang atau sumber mata air dan bertapa di sana. Dalam pertapaannya itu, dia menjadi seorang Brahmana. Hinga akhir hayatnya, dia dikuburkan di dekat mata air itu bersama istrinya, yang diyakini keturunan Tionghoa. Kemujaraban air sendang yang ditemukan Pangeran Singonegoro baru dirasakan bertahun-tahun kemudian, setelah Ki Jumprit meminumnya sebagai penyembuh penyakitnya. Ki Jumprit ini adalah seseorang yang tinggal di tepi Sungai Progo. Dia mengalami sakit perut yang hebar sehingga ingin menyeburkan dirinya ke dalam sungai untuk mengakhiri penderitaannya. Namun, pada suatu malam dia memperoleh bisikan untuk pergi ke hulu Sungai Progo. Di sana, dia meminum air itu dan sakit perutnya pun hilang. Karena itu, hingga saat ini, air di hulu sungai itu dipercaya bisa menyebuhkan penyakit. Sehingga, tidak jarang terlihat ada sejumlah orang yang mandi di tempat itu. Bahkan, menurut Muhtasori, kerap kali orang-orang dari kota datang untuk berendam di sendang itu. "Katanya air itu bisa memberikan mereka kesembuhan penyakit. Selain itu, ada juga yang memiliki suatu keinginan bisa terwujud kalau berendam di sendang itu pada malam hari," ujarnya. Percaya
atau tidak percaya, air Sirah Progo memang berkhasiat bagi masyarakat
untuk mengairi sawah dan sumber air bagi kehidupan. Sehingga, sudah
sepatutnya sumber itu dilestarikan dengan menghijaukan kembali hutan
di Gunung SIndoro, supaya kekhasiatannya tidak segera hilang. (J02)
|
||||||