:: Artikel SDA ::
 
 



Sirah Progo, Sumber Air yang Berkhasiat

Kompas Edisi Jawa Tengah, 3 Desember 2004

 

Sungai Progo yang membentang mulai dari kaki Gunung Sindoro bagian utara hingga ke daerah selatan Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, dan akhirnya bermuara di Samudera Indonesia menjadi sumber air bagi masyarakat sekitarnya. Setiap tahun, terutama menjelang musim kemarau, sungai satu ini tidak habis-habisnya menjadi pantauan sejumlah dinas tekait, terutama yang mengatur dan yang memproduksi air.

Terutama, hulu sungainya, yaitu mata air Sirah Progo. Karena, dari sana sumber pertama air Sungai Progo yang mengalir ke berbagai irigasi untuk mengairi sawah sekitar Kabupaten Temanggung, Purworejo, hingga Kabupaten Kulon Progo. Tidak hanya irigasi, air ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat sekitar sungai itu.

Kehadirannya sebagai sumber pertama Sungai Progo terbilang mempunyai legendanya sendiri, sekaligus menjadi sumber kepentingan masyarakat.

Di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, hulu itu berada di Dusun Jumprit, Desa Tegalrejo, Kabupaten Temanggung, dengan dikelilingi aireal hutan Gunung Sindoro yang semakin gundul. Tidak ayal debit air hulu itu pun terus mengalami penurunan, terlebih pada musim kemarau.

Di sisi lain, airnya dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan segala macam penyakit. Tidak jarang para pengunjung membawa air dari mata aair itu sampai beberapa botol bekas kemasan air mineral.


Meski kian tahun debitnya kian menurun, dengan 'dijaga' 20 kera yang dipercaya sebagai Ki Dipo atau Hanoman Putih, mata air itu masih menyeburkan air. Konon jumlah kera-kera itu tidak pernah berkurang maupun bertambah, Kalau ada kelahiran baru, salah satu kera yang dewasa akan menyingkir dan menghilang dari kelompok itu.

Kehadiran mereka kerap berkelompok dan berkeliaran di sekitar pintu masuk mata air itu, yang berupa gapura khas Bali. Sesuai tugasnya, yang senantiasa berada di garis depan melindungi tuan rumahnya, mereka sering terlihat di pintu gapura itu. Mereka hanya terusik bila mencium bau makanan. Geraknya gesit mencari sumber bau makanan itu.

Melalui relung-relung gapura itu, sangat terasa nuansa arsitektur yang hadir bernuansa candi agama Hindu, seperti Prambanan. Sebab, sumber air itu diyakini ditemukan pertama kali oleh Pangeran Singonegoro, seorang penganut agama Hidnu Syiwa. Di sekitar sumber air itu juga ada cungkup makam yang diyakini makam pangeran itu dan istrinya.

Oleh agama Budha pun, air pada sumber itu dipercaya sebagai air suci untuk memperingati Hari Raya Waisak. "Setiap Waisak, umat Budha mengambil air dari sini," ujar Muhtasori (38) penjaga tempat itu,

Muhtasori menuturkan, Pangeran Singonegoro itu adalah seorang penasehat spiritual raja Majapahitm yang menyingkir pergi di penghujung runtuhnya Kerajaan Majapahit. Dalam perjalanannya itu, bersama kedua puluh kera yang mengawalnya, dia menemukan sendang atau sumber mata air dan bertapa di sana. Dalam pertapaannya itu, dia menjadi seorang Brahmana. Hinga akhir hayatnya, dia dikuburkan di dekat mata air itu bersama istrinya, yang diyakini keturunan Tionghoa.

Kemujaraban air sendang yang ditemukan Pangeran Singonegoro baru dirasakan bertahun-tahun kemudian, setelah Ki Jumprit meminumnya sebagai penyembuh penyakitnya. Ki Jumprit ini adalah seseorang yang tinggal di tepi Sungai Progo. Dia mengalami sakit perut yang hebar sehingga ingin menyeburkan dirinya ke dalam sungai untuk mengakhiri penderitaannya. Namun, pada suatu malam dia memperoleh bisikan untuk pergi ke hulu Sungai Progo. Di sana, dia meminum air itu dan sakit perutnya pun hilang. Karena itu, hingga saat ini, air di hulu sungai itu dipercaya bisa menyebuhkan penyakit. Sehingga, tidak jarang terlihat ada sejumlah orang yang mandi di tempat itu.

Bahkan, menurut Muhtasori, kerap kali orang-orang dari kota datang untuk berendam di sendang itu. "Katanya air itu bisa memberikan mereka kesembuhan penyakit. Selain itu, ada juga yang memiliki suatu keinginan bisa terwujud kalau berendam di sendang itu pada malam hari," ujarnya.

Percaya atau tidak percaya, air Sirah Progo memang berkhasiat bagi masyarakat untuk mengairi sawah dan sumber air bagi kehidupan. Sehingga, sudah sepatutnya sumber itu dilestarikan dengan menghijaukan kembali hutan di Gunung SIndoro, supaya kekhasiatannya tidak segera hilang. (J02)

   

Sirah Progo -- selain sumber air pertama Sungai Progo, Sirah Progo juga diyakini sebagai sumber air yang mampu menyembuhkan segala penyakit. Banyak pengunjung yang sengaja datang hanya untuk mengambil airnya yang akan digunakan sebagai obat.

 


Sampaikan saran dan masukan Anda ke :
webmaster@psdajateng.go.id 
atau seksirepot@psdajateng.go.id