Petaka dari
Sumber Air yang Tercemar
Suara
Pembaruan, 23 Mei 2005
PETAKA akibat kondisi air minum yang buruk, menanti manusia. Saat
ini saja, lima juta anak meninggal setiap tahun akibat air yang
tercemar. Hal ini harus diwaspadai. Ancaman terbesar justru ada
di kota besar, seperti Jakarta. Air sungai dan air tanah sudah
tercemar sehingga Bakteri E coli senantiasa mengintai dan membawa
berbagai penyakit yang bisa berakhir pada kematian. Karena itu,
harus ada perubahan yang radikal dalam penanganan air bersih,
termasuk berbagai upaya penyaringan untuk menghilangkan berbagai
sumber penyakit yang ada dalam air.
Plus-Minus
Teknologi Penjernih Air
MAJU
kena mundur kena. Seperti itulah mutu air di Negeri ini. Bayangkan
di musim hujan misalnya, air di berbagai sungai di Jakarta atau
kota-kota lainnya terlihat sangat keruh. Lumpur dan erosi dari
segala penjuru masuk ke sungai. Begitu
juga di musim berikutnya, kemarau. Air yang menyusut itu malah
jauh lebih kotor lagi. Masyarakat dan industri sama-sama membuang
limbah ke sungai. Jadilah air sungai tersebut kotor, bau, dan
menyimpan aneka penyakit.
Semakin
berat air itu tercemar kian mahal pula proses pengolahannya. Artinya,
untuk air yang tidak terlalu keruh, pengolahan dapat dilakukan
dengan proses penyaringan sederhana, bisa dilakukan individu maupun
komunal. Jika
kekeruhan cukup tinggi diperlukan unit penjernih yang memerlukan
bahan kimia. Setelah melalui tangki penjernih, lalu disaring dengan
sistem saringan pasir lambat atau cepat, tergantung kebutuhan.
Proses
pengolahan air keruh dengan penyaringan mempunyai keunggulan,
murah dalam pemeliharaan dan perawatan, serta teknologinya cukup
sederhana. Teknologi ini banyak dipakai di pedesaan. Persoalan
yang sering dihadapi berupa buntunya saringan pasir. Namun, dengan
perkembangan baru, sistem saringan diubah dan proses pemeliharaan
dapat menjadi lebih sederhana dan murah.
Teknologi
Saringan Pasir Lambat (Sarpalam) yang banyak diterapkan di Indonesia
biasanya adalah tipe konvensional dengan arah aliran dari atas
ke bawah (down flow). Kelemahannya,
jika kekeruhan air baku naik, terutama pada waktu hujan, sering
terjadi penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan
pencucian secara manual dengan cara mengeruk media pasirnya dan
dicuci. Setelah bersih dipasang lagi seperti semula, sehingga
memerlukan tenaga yang cukup banyak.
Hal
inilah yang sering menyebabkan Sarpalam kurang berfungsi dengan
baik, terutama pada musim hujan. "Dengan demikian, agar beban
Sarpalam tidak telalu besar, perlu dilengkapi dengan peralatan
pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan
up flow dengan media berikil atau batu pecah, dan kuarsa atau
silika," imbau Arie Herlambang.
Selanjutnya
dari bak saringan awal, air dialirkan ke bak saringan utama dengan
arah aliran dari bawah ke atas (up flow). Air yang keluar dari
bak saringan pasir tersebut merupakan air olahan dan dialirkan
ke bak penampung air bersih, selanjutnya didistribusikan ke konsumen
dengan cara gravitasi atau dengan memakai pompa.
Jika
saringan telah jenuh dan buntu dapat dilakukan pencucian balik
dengan cara membuka keran penguras. Dengan adanya pengurasan ini,
air bersih yang berada di atas lapisan pasir dapat berfungsi sebagai
air pencuci media penyaring (back wash). Dengan demikian, pencucian
media penyaring pada Sarpalam up flow dilakukan tanpa mengeluarkan
atau mengeruk media penyaringnya dan dapat dilakukan kapan saja.
Keunggulannya,
pencucian media saringan (pasir) relatif mudah, serta hasilnya
sama dengan saringan pasir konvensional. Kapasitas pengolahan
dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan
yang diperlukan.
Untuk
merancang Sarpalam, beberapa kriteria perencanaan yang harus dipenuhi,
antara lain kekeruhan air baku lebih kecil 10 NTU. Jika lebih
besar, perlu dilengkapi dengan bak pengendap dengan atau tanpa
bahan kimia.Lalu,
tinggi lapisan pasir 70-100 cm, tinggi lapisan kerikil 25-30 cm,
tinggi muka air di atas pasir 40-120 cm, tinggi ruang bebas antara
25-40 cm, diameter pasir kira-kira 0,2-0,4 mm, dan jumlah bak
penyaring minimal dua buah.
Salah
satu contoh unit pengolahan air dengan Sarpalam telah dibangun
di Pesantren La Tansa, Lebak, Jawa Barat dengan kapasitas 100
m3/hari. Air baku yang digunakan adalah air dari saluran irigasi
sekunder.
Air
sungai dialirkan secara garvitasi melalui banguan penyadap ke
dalam bak penenang pertama. Selanjutnya, air itu mengalir ke bak
saringan awal dengan arah aliran dari bawah ke atas (up flow)
dengan kecepatan pengaliran 16 m3/m2 hari.
Air
hasil penyaringan dialirkan ke bak penenang kedua dan selanjutnya
masuk ke bak saringan pasir kedua sistem aliran up flow dengan
kecepatan penyaringan 5 m3/m2 hari. Air hasil penyaringan kedua
tersebut ditampung di dalam bak air bersih, selanjutnya dialirkan
ke kontaktor khlorine dan dialirkan ke konsumen.
Menurut
Arie, keunggulan Sarpalam up flow adalah proses pengolahan yang
sederhana, tidak mudah buntu, serta mudah dalam pembersihan dan
perawatan. Kelemahannya, unit ini hanya bisa mengolah air dengan
kekeruhan rendah. Jadi, jika kekeruhannya tinggi, memerlukan bantuan
tangki penjernih sebelum air masuk ke dalam Sarpalam. (B-12)